TRADING PLAN


Sebelum membangun rumah, seorang arsitek harus memiliki desain arsitektur atau blueprint terlebih dahulu. Desain ini diperlukan agar pembangunan rumah tersebut dapat berjalan dengan lancar dan mengurangi potensi kesalahan atau penyimpangan yang mungkin terjadi selama proyek berlangsung. 

 

Hal ini juga berlaku dalam Investasi Saham, Investor harus memiliki desain atau rancangan atas proyek Investasi yang akan dilakukannya sebelum memasuki dunia Pasar Saham. Dalam Investasi Saham, desain atau rancangan ini dinamakan Trading Plan.

 

Secara sederhana, Trading Plan dapat didefinisikan sebagai panduan berinvestasi yang telah disusun oleh Investor itu sendiri dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria yang telah ditentukan sebelumnya.

 

 

Komponen Penyusun Trading Plan

 

Trading Plan dalam Investasi Saham dapat dianalogikan sebagai peraturan atau tata tertib yang harus ditaati oleh Investor. Sebagai tata tertib, Trading Plan berguna untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan yang mungkin dilakukan oleh Investor dan dapat berdampak buruk terhadap portofolionya. Hal paling mendasar yang perlu dipahami sebelum mengulas lebih dalam mengenai Trading Plan adalah komponen-komponen utama dalam Trading Plan, yaitu Entry, Exit, Target, dan Timeframe

 

Entry Level menunjukan level harga yang tepat bagi Investor untuk membeli/mengakumulasi suatu saham. Validasi  Entry Level ditentukan oleh harga penutupan dan volume transaksi. Ketika harga saham mencatatkan rebound dan didukung oleh peningkatan volume transaksi, inilah saat yang tepat bagi Investor untuk masuk (membeli saham). Selanjutnya, ketika harga saham melanjutkan penguatannya dan ditopang dengan kenaikan volume transaksi, inilah saat yang tepat untuk mengakumulasi saham tersebut.

 

Jika Entry Level menunjukan level harga untuk membeli/mengakumulasi suatu saham, maka Exit Level menunjukan harga yang tepat untuk keluar atau mengambil posisi jual atas saham yang dimiliki. Contohnya adalah dengan menentukan Exit Level ketika harga saham turun sebesar 3% dari harga pembelian atau sebaliknya. Dengan menaati Exit Level yang telah ditetapkan, seorang Investor dapat terhindar dari potensi kerugian yang lebih besar ketika harga saham turun dan menghindari kehilangan potensi Capital Gain yang dapat direalisasikan ketika harga naik.

 

Target Price menunjukan target harga potensial yang dapat dicapai oleh suatu saham dalam jangka waktu tertentu. Target Price ditentukan dengan menggunakan garis Resistance. Ketika Target Price sudah tercapai, Investor dapat melakukan Take Profits dengan menjual sebagian saham miliknya tersebut.

 

Sekilas, Target Price sama dengan Exit Level ketika harga saham mencatatkan kenaikan. Perbedaannya adalah ketika harga suatu saham sudah mencapai Target Price-nya, harga saham tersebut masih berpotensi mencatatkan penguatan lebih tinggi lagi selama divalidasi oleh volume transaksi.

 

Komponen terakhir dari Trading Plan adalah Timeframe. Timeframe dapat diartikan sebagai jangka waktu periode rentang waktu data historis yang diamati. 

 

Besarnya Timeframe berbeda untuk setiap Tipe Investor, Investor Jangka Panjang yang memiliki periode Investasi beberapa tahun tentu saja tidak akan melakukan pengamatan atas data historis dalam 1 bulan terakhir saja. Sebaliknya Investor Jangka Pendek, cenderung mengamati data historis dalam rentang waktu yang lebih singkat, dari beberapa bulan hingga dalam hitungan hari.

 

 

Menyusun Trading Plan

 

Trading Plan yang baik harus mampu menjawab 4 (empat) pertanyaan utama, yaitu What, How, When, dan Why.

 

What ?
Sebelum menyusun Trading Plan, seorang Investor harus mampu mengelompokan dirinya dalam salah satu tipe Investor. Bagi Investor Pemula yang belum dapat mengelompokan dirinya dapat mengkombinasikan semua tipe investasi dan pada akhirnya dapat menarik kesimpulan.

Pengelompokan ini sangat penting karena setiap tipe Investor memiliki cara dan pendekatan Investasi yang berbeda-beda.

 

How ?
Setelah mampu mengelompokan dirinya kedalam salah satu Tipe Investor, selanjutnya Investor tersebut harus menentukan strategi Investasi yang paling sesuai. Sebab setiap Strategi Investasi memiliki karakteristik masing-masing. Contohnya adalah Tipe Investor Jangka Panjang akan menggunakan Strategi Buy and Hold, sedangkan Tipe Investor Jangka Pendek akan menggunakan Indikator RSI, yaitu melakukan aksi beli ketika RSI mengindikasikan harga suatu saham sudah oversold dan menjual sahamnya tersebut ketika terindikasi overbought.

 

When ?
Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah waktu. Perlu diingat bahwa harga saham bergerak dalam suatu siklus yang akan terus berulang. Contohnya adalah ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri harga-harga emiten konsumsi dan perdagangan retail cenderung mencatatkan kenaikan harga yang cukup signifikan, sama halnya ketika menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru.

 

Why ?
Terakhir, Trading Plan yang disusun harus mampu menjelaskan alasan atau tujuan Investasi. Tujuan yang ditetapkan harus jelas dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi dalam berbagai kondisi ekonomi. Tujuan Investasi tidak boleh hanya sekedar ingin memperoleh keuntungan, keuntungan ini harus dijabarkan lagi, berapa besarnya keuntungan yang diharapkan, keuntungan tersebut berasal dari sektor atau saham apa saja, dan kondisi ekonomi yang menungkinkan tercapainya Tujuan Investasi ini.