Analisa Investasi : Pengantar II (Keputusan Investasi Saham)


Investasi Saham erat kaitannya dengan pengambilan Keputusan Investasi,  keputusan membeli dan/atau menjual saham. Keputusan Investasi yang tepat tentunya akan berdampak positif terhadap hasil Investasi Saham yang dilakukan, namun kenyataannya sangat sulit bagi seorang Investor, terutama Investor Pemula untuk membuat suatu Keputusan Investasi (beli dan/atau jual saham) yang tepat. 

Kali ini akan diulas Panduan Pengambilan Keputusan Investasi yang tepat. Pertama, kriteria-kriteria saham yang layak investasi. Hal ini untuk menjawab permasalahan yang sering muncul ketika Investor Pemula akan melakukan pembelian saham.

Kedua, setelah Investor memilih suatu saham dan membeli saham tersebut, permasalahan selanjutnya yang dihadapi Investor Pemula adalah memilih waktu yang tepat untuk merealisasikan potensi keuntungan yang dimiliki atau waktu yang tepat untuk melakukan cut loss supaya potensi kerugian dapat diminimalisir.

 

 

Kriteria Saham Layak Investasi

 

Seorang Investor harus memiliki kemampuan untuk memilih saham-saham yang baik. Saham yang baik artinya saham tersebut memenuhi Kriteria Saham Layak Investasi. Kemampuan untuk memilih saham layak investasi sangat penting mengingat banyaknya jumlah emiten yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per April 2014 saja jumlah emiten yang terdaftar di BEI mencapai 497 emiten. Berikut  beberapa Kriteria Saham Layak Investasi, yaitu :

 

Memiliki Manajemen Ideal

 

Kriteria paling utama dari Saham Layak Investasi adalah memiliki Manajemen yang ideal, artinya perusahaan tersebut memiliki Visi dan Misi yang jelas, jujur, terbuka, dan bertanggung jawab. Sebagai contoh ketika terjadi penurunan kinerja keuangan, Manajemen akan secara terbuka menyampaikan hal ini kepada Investor dan menjelaskan strategi-strategi yang akan dilakukan untuk mengatasi hal ini.

 

Pentingnya kriteria Manajemen ini dibuktikan dengan sejumlah kasus ketika perusahaan terpaksa dipailitkan karena adanya kelalaian atau penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh Manajemen dalam perusahaan tersebut.

 

Berada di Sektor Potensial

 

Sektor potensial adalah sektor usaha dengan iklim bisnis yang mendukung perusahaan untuk mengembangkan usahanya. Hal ini akan bersinergi positif dengan Manajemen yang ideal. Manajemen dapat lebih leluasa dalam menyusun strategi-strategi pengembangan usaha, sehingga potensi keuntungan yang akan diperoleh dapat dioptimalkan.

 

Terus Bertumbuh

 

Dengan kemampuan Manajemen yang ideal dan didukung oleh iklim usaha yang ideal pula, besar potensi perusahaan untuk terus mencatatkan pertumbuhan. Perlu dicatat, pertumbuhan tidak selalu harus diukur dari kenaikan laba bersih atau dividen yang dibagikan. Ekspansi kapasitas produksi dengan membangun pabrik baru, Ekspansi Lini Produk dengan memproduksi jenis produk baru, dan Ekspansi Pangsa Pasar dengan melakukan perluasan jaringan distribusi juga dapat dijadikan tolak ukur pertumbuhan perusahaan, sebab hasilnya mungkin tidak dapat langsung dinikmati, namun dalam jangka panjang berpotensi mendorong peningkatan laba yang signifikan.

 

Valuasi Sahamnya Wajar

 

Kriteria terakhir adalah kesesuaian antara kinerja keuangan perusahaan dengan harga pasar sahamnya, artinya harga pasar (market price) saham tersebut sama dengan nilai wajarnya (fair value). Namun nyatanya hal ini sangat jarang terjadi, yang lazim terjadi adalah kondisi overvalued dimana harga pasar suatu saham lebih tinggi dari nilai wajarnya (fair value) dan undervalued dimana harga pasar suatu saham lebih rendah dari nilai wajarnya (fair value). 

 

Saham-saham yang disukai oleh investor adalah saham-saham yang termasuk dalam kategori undervalued, karena diharapkan harga sahamnya akan mengalami kenaikan hingga menekati nilai wajarnya (fair value).

 

 

Menentukan Waktu yang Tepat untuk Menjual Saham

 

Ketika seorang Investor memutuskan untuk membeli suatu saham, maka yang diharapkan oleh Investor tersebut adalah memperoleh keuntungan yang besar, baik dari Dividend maupun Capital Gain. Keuntungan dari Capital Gain adalah ketika Investor menjual saham miliknya pada harga yang lebih tinggi dibanding harga pembeliannya. 

 

Teori menjual saham berbeda antara Investor (jangka panjang) dan Trader (jangka pendek). Bagi Investor jangka panjang, menjual saham harusnya tidak menjadi masalah yang paling utama, karena return utama dari investasinya adalah Dividend. Investor akan terus menahan saham yang dimilikinya selama mungkin selama emiten yang menerbitkan saham tersebut masih memiliki prospek usaha yang menguntungkan. Sebaliknya aksi jual baru dilakukan apabila emiten penerbit saham tersebut mulai menunjukan penurunan kinerja, atau sektor usaha emiten tersebut diproyeksikan tidak dapat mendukung pertumbuhan kinerja emiten.

 

Sebaliknya, para Trader yang berharap memperoleh return yang besar dari besarnya Capital Gain, sehingga mereka harus menemukan waktu yang tepat untuk merealisasikan potensi Capital Gain tersebut. Cara paling lazim yang digunakan dalam menentukan waktu yang tepat untuk merealisasikan Capital Gain adalah dengan menerapkan teori Overbought. 

 

Kenaikan harga saham dapat dianalogikan seperti mendorong mobil yang mogok di jalan menanjak. Pemilik mobil mungkin mampu mendorong mobilnya dalam jarak tertentu sampai titik dimana memerlukan bantuan orang lain untuk mendorong mobilnya. Dengan bantuan ini, mobil dapat terus menanjak sampai titik dimana mereka kehabisan tenaga dan tidak ada lagi orang yang dapat membantu, pada titik inilah mobil akan berhenti, bahkan berbalik arah. 

 

Hal yang sama juga berlaku pada Kenaikan harga saham. Harga akan terus naik terpicu oleh trigger-trigger  positif maupun euphoria yang beredar di pasar, hingga mencapai satu titik dimana tidak ada lagi trigger yang menopang penguatan harga saham tersebut. Titik inilah yang dinamakan overbought dan kondisi ini adalah indikasi bagi Investor untuk merealisasikan potensi Capital Gain dari saham yang dimilikinya.

 

 

Value Investing

 

Value Investing (Investasi Nilai) ditemukan dan dikembangkan oleh Benjamin Graham dan David Dodd pada tahun 1934. Benjamin Graham merupakan dosen dari Warren Buffet selama kuliah di Columbia University, sehingga Warren Buffet banyak menerapkan teori-teori dari Benjamin Graham dalam ideologi investasinya, termasuk teori Value Investing.
Value Investing merupakan terapan dari teori Margin of Safety yang merupakan selisih antara harga pasar saham dengan nilai wajar (fair value) dari saham tersebut. Value Investing adalah berinvestasi dengan memanfaatkan Margin of Safety dari suatu saham. Ada kalanya harga pasar suatu saham mengalami penurunan yang cukup signifikan akibat euphoria tertentu di pasar yang mendorong investor beramai-ramai menjual saham tersebut.

 

Contoh nyata dari penerapan teori Value Investing adalah pada periode Juni-Agustus 2013 ketika The Fed mengumumkan rencana pengurangan stimulus ekonomi oleh dan disaat bersamaan BI memutuskan untuk mengakhiri kebijakan suku bunga rendahnya guna mengantisipasi tingginya inflasi pasca kenaikan harga BBM Subsidi. Pada periode ini, harga saham di BEI, terutama saham-saham perbankan mencatatkan penurunan yang sangat signifikan, karena pada kondisi ini investor cenderung beramai-ramai melakukan aksi jual.

 

Kondisi ini dimanfaatkan oleh para pendukung prinsip Value Investing untuk melakukan akumulasi beli pada saham-saham bluechip (unggulan) yang mengalami penurunan harga signifikan tersebut karena dinilai harga pasar sahamnya sudah jauh lebih rendah dari nilai wajarnya. Para penganut teori Value Investing percaya bahwa ketika kondisi pasar mulai stabil, harga pasar saham-saham ini akan kembali mencatatkan kenaikan hingga mendekati nilai wajarnya (fair value).