Strategi Portofolio : Aktif


Portofolio adalah kumpulan dari instrument investasi yang dibentuk untuk memenuhi suatu sasaran umum investasi. Teori Portofolio pertama kami diperkenalkan oleh Harry M. Markowitz (1972) melalui model investasi yang bernama Model Markowitz. Tujuan dari Model Markowitz adalah menghasilnya Portofolio yang optimal, yaitu Portofolio yang mampu memberikan ekspektasi return maksimal dengan resiko tertentu, atau sebaliknya memiliki resiko minimal dengan ekspektasi return tertentu. Teori Portofolio dari Markowitz dalam prakteknya juga dapat diterapkan dalam investasi saham. Oleh sebab itu, dalam investasi saham juga dikenal Portofolio Saham. 

 

Definisi sederhana dari Portofolio Saham adalah gabungan atau kombinasi dari beberapa saham. Berdasarkan komposisinya, Portofolio dapat dibedakan menjadi Portofolio Konsentrasi dan Portofolio Diversifikasi.
Sesuai namanya, komposisi saham dalam Portofolio Konsentrasi, akan dikonsentrasikan pada saham-saham dalam sektor yang sama dan memiliki karakteristik yang serupa. 

 

Contoh : Portofolio yang tersusun atas saham yang diterbitkan oleh PT Indofood Sukses Makmur, Tbk [INDF], PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk [ICBP], dan PT Unilever Indonesia Tbk [UNVR]. Portofolio ini disebut Portofolio Konsentrasi karena ketiga emiten tersebut beroperasi di sektor usaha yang sama, yaitu Sektor Consumer Goods.

 

Sebaliknya, Portofolio Diversifikasi memiliki komposisi saham yang beragam, pada umumnya terdiri dari sejumlah saham dari sektor yang berbeda dan sebaiknya berkorelasi negatif. 

 

Contoh : Portofolio yang tersusun atas saham PT Kalbe Farma Tbk [KLBF] (Consumer Goods), PT Bank Central Asia Tbk [BBCA] (Finance), dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk [TLKM] (Infrastructure). Ketiga saham diatas beroperasi di sektor usaha yang berbeda satu dengan lainnya, yaitu Consumer Goods, Finance, dan Infrastruktur, bukan hanya berbeda, ketiga sektor tersebut juga memiliki korelasi yang negatif artinya ketiga sektor tersebut tidak saling mempengaruhi. Maka jika ada salah satu saham yang mengalami penurunan harga, maka dua saham lainnya diharapkan dapat menjadi penyeimbang terhadap penurunan harga tersebut.

 

Selanjutnya, dalam menyusun Portofolio, baik itu Portofolio Konsentrasi maupun Diversifikasi dibutuhkan suatu strategi Portofolio. Strategi Portofolio yang lazim digunakan adalah Strategi Portofolio Aktif dan Strategi Portofolio Pasif.

 

 

Strategi Portofolio  : Aktif vs Pasif


Dalam menyusun Portofolio, terdapat dua strategi yang lazim digunakan, yaitu Strategi Aktif dan Pasif.

 

Strategi Portofolio Aktif

 

Dalam Strategi Aktif, Investor akan secara aktif melakukan pemilihan saham berdasarkan informasi yang dikumpulkannya dan pergerakan harga pasar saham tersebut. Investor yang menggunakan Strategi Aktif pada umumnya akan lebih aktif dalam melakukan jual atau beli saham (bertransaksi saham).

 

Tujuan utama dari Strategi Aktif adalah untuk memperoleh ekspektasi tingkat pengembalian diatas rata-rata tingkat pengembalian pasar (abnormal return). Terdapat 3 (tiga) cara yang digunakan dalam Strategi Aktif, yaitu Pemilihan Saham, Rotasi Sektor dan Momentum Harga.

 

Strategi Portofolio Pasif

 

Berlawanan dengan Strategi Aktif, dalam Strategi Pasif, investor akan cenderung pasif dalam melakukan aktifitas jual beli saham (transaksi saham). Namun, bukan berarti Investor tidak mempedulikan informasi yang berpengaruh terhadap saham yang dimilikinya. 

 

Dengan menggunakan Strategi Pasif, pada umumnya investor akan melakukan analisa secara lebih detail dan spesifik mengenai kinerja keuangan dan isu-isu yang berpotensi mempengaruhi kinerja keuangan emiten sebelum memutuskan untuk membeli saham yang diterbitkan oleh emiten tersebut.

 

Selanjutnya, Investor tidak akan mengikuti pergerakan harga pasar saham miliknya dari waktu ke waktu, sebab Strategi Pasif mendasarkan pergerakan saham sebuah emiten pada pergerakan indeks pasar saham. Terdapat 2 (cara) yang lazim digunakan dalam melakukan Strategi Pasif, yaitu Beli & Simpan (Buy & Hold) dan Mengikuti Indeks (Indexing).

 

 

Strategi Portofolio Aktif : Kelebihan & Kekurangan

 

Strategi Aktif penyusunan Portofolio memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :

 

Kelebihan Strategi Aktif

 

Strategi Aktif mengharuskan Investor untuk selalu mengikuti perkembangan pasar dan mencermati informasi-informasi yang berpotensi mempengaruhinya. Dengan begitu, Investor akan terus memperbaharui analisanya berdasarkan informasi dan/atau data terbaru, sehingga keputusan investasi yang diambil juga disesuaikan dengan trend pasar yang sedang berlangsung. 

 

Dengan melakukan hal diatas, Investor yang cermat dapat menemukan momentum dari pergerakan harga sebuah saham dan memanfaatkannya untuk memperoleh ekspektasi return maksimal.

 

Kelemahan Strategi Aktif

 

Kelemahan utama dari Strategi Aktif adalah kemungkinan bias dalam pengambilan keputusan investasi akibat kesalahan investor dalam menyaring dan mengintepretasi informasi yang sangat banyak dan beragam dalam waktu yang bersamaan. Keputusan investasi yang tidak tepat akan berdampak langsung pada return yang diperoleh dan potensi resiko yang harus ditanggung oleh Investor tersebut.

 

Selain itu, jika Strategi Aktif diterapkan oleh Investor jangka pendek (Trader), pada umumnya mereka akan lebih aktif melakukan transaksi (jual/beli) saham. Hal ini berdampak pada tingginya biaya (fee) yang harus dibayar oleh nvestor.

 

Berdasarkan ulasan diatas, dapat disimpulkan bahwa Strategi Aktif memungkinkan Investor memperoleh return yang maksimal. Di sisi lain, analisa yang terus dimutahirkan berpotensi menghasilkan bias dalam pengambilan keputusan investasi yang dapat berdampak negatif terhadap return yang diperoleh.

 

 

Jenis-Jenis Strategi Portofolio Aktif

 

Terdapat 3 (tiga) cara yang lazim dilakukan dalam menjalankan Strategi Portofolio Aktif, yaitu Pemilihan Saham, Rotasi Sektor, dan Momentum Harga. Selanjutnya Profits Buletin akan mengulas secara lebih mendalam atas masing-masing cara tersebut.

 

Pemilihan Saham

 

Dalam menjalankan strategi ini, investor secara aktif menganalisa dan memilih saham-saham terbaik, yaitu saham yang memberikan risk & return trade-off terbaik dibanding alternatif lainnya. Pemilihan saham didasari oleh Analisa Fundamental guna mengetahui prospek saham tersebut di masa yang akan datang. Selain itu, Investor juga secara aktif memilih saham yang undervalued. Saham undervalued adalah saham yang memiliki nilai intrinsik lebih besar dari harga pasar (market value).

 

Rotasi Sektor

 

Terdapat 2 (dua) pendekatan ketika menjalankan Strategi Rotasi Sektor, yaitu :
Konsentrasi : melakukan investasi pada saham-saham perusahaan yang bergerak dalam sektor tertentu untuk mengantisipasi perubahan siklus ekonomi di kemudian hari.

 

Diversifikasi : Melakukan modifikasi atau perubahan terhadap bobot Portofolio saham-saham pada sektor industri yang berbeda-beda, untuk mengantisipasi perubahan siklus ekonomi, pertumbuhan dan nilai saham perusahaan.

 

Momentum Harga

 

Strategi ini berdasarkan pada ideologi bahwa pada waktu-waktu tertentu harga pasar saham akan merefleksikan kinerja perusahaan (disebut juga dengan momentum harga saham). Momentum inilah yang dimanfaatkan investor untuk memperoleh keuntungan dari kenaikan harga pasar saham tersebut.

 

(Strategi Portofolio Pasif baca disini)