Defisit Terburuk Sejak 2014, Sri Mulyani: Ekspor Masih Sehat


Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai defisit neraca perdagangan Indonesia pada kurtal I 2018 ini masih tergolong sehat. Karena komponen ekspor masih tumbu di tengah derasnya impor.

 

Ia menjelaskan, dari sisi ekspor yang pertumbuhannya secara year on year masih di atas 9%, itu masih menujukan suatu tren yang masih sangat sehat. Memang, selama ini negara berharap pertumbuhan dari ekspor masih bisa dipacu lebih banyak, tapi ekspor kali ini menunjukan adanya suatu perbaikan.

 

"Dari sisi ekspor tumbuh 9% masih sehat. Tingkat dari pertumbuhan ekspor negara tentunya akan jauh lebih bagus apabila ada diversifikasi dari komoditas maupun daerah tujuan," ujar Sri Mulyani kepada media ketika dijumpai di Jakarta, Selasa (15/5/2018).

 

Sehingga, lanjutnya, pemerintah akan terus memacu pengembangan produk-produk dalam negeri, utamanya produk-produk ekspor dan manufaktur yang bisa kompetitif di dunia. Adapun, kalau dilihat dari impor, yang bertumbuh sangat tinggi yakni 34%, itu semua dikontribusi dari konsumsi bahan baku dan barang modal.

 

Untuk impor bahan baku dan barang modal, Sri Mulyani mengakui memang momentumnya luar biasa tinggi. Hal tersebut menggambarkan kebutuhan industri dan kebutuhan dari aktivitas ekonomi dalam negeri meningkat sangat besar. 

 

"Interpretasi positifnya adalah ini menujukan sektor produksi sedang bergerak dan orang confirm dengan mengimpor bahan baku dan barang modal," tuturnya.

 

Namun, tambah Sri Mulyani, untuk komoditas konsumsi yang juga pertumbuhannya cukup tinggi, ia berharap hal tersebut hanya bersifat musiman, artinya hanya karena mendekati Lebaran, puasa, dan mungkin berbagai acara-acara internasional, yang kemudian menimbulkan permintaan konsumsi barang impor.

 

Ia juga berharap, hal itu bisa dikompensasi dengan ekspor yang meningkat, dan proses industrialisasi di Indonesia makin ditingkatkan. Ia menegaskan, pemerintah sesuai arahan Presiden akan terus meningkatkan dan meluncurkan berbagai kebijakan untuk mengembangkan investasi dan ekspor termasuk fasilitas fiskal yang terus diperbaiki.

 

"Hasil data BPS hari ini memberikan pekerjaan rumah pada pemerintah untuk kerja lebih keras memperbaiki eksternal balance negara, industri, komoditi, dan daerah tujuan kita, dan pemerintah siap untuk melakukan itu," pungkasnya.

 

Sumber : cnbcindonesia.com