September, BTN Siap Akuisisi Perusahaan Manajemen Investasi


Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk siap mengakuisisi anak usaha baru dalam bentuk manajemen investasi (MI). Aksi korporasi tersebut guna menggarap potensi pendanaan jangka panjang usai beroperasinya Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera).

 

Direktur Utama Bank BTN Maryono mengatakan dalam payung hukum terkait Tapera, entitas bank diberikan dua opsi pilihan untuk mengelola dana tersebut yakni sebagai bank kustodian atau memiliki manajemen investasi. Dari hasil kajian bisnis, perseroan memutuskan mengambil opsi kedua. Nantinya, entitas manajemen investasi yang baru tersebut bakal digunakan untuk mengelola dana Tapera secara profesional dan komersial.

 

“Pada September tahun ini, kami akan membeli anak usaha dalam bentuk manajemen investasi. Ini sebagai salah satu langkah mengamankan sumber pembiayaan jangka menengah panjang termasuk yang bersumber dari Tapera,” ujar Maryono di di Jakarta, Rabu (11/7).

 

Maryono menambahkan, langkah strategis tersebut dilakukan melihat prospek yang semakin cerah usai relaksasi loan-to-value (LTV) sektor perumahan yang ditetapkan Bank Indonesia (BI). “Kebijakan tersebut menjadi keuntungan bagi Bank BTN dengan core business pembiayaan perumahan,” kata Maryono.

 

Maryono meyakini dengan relaksasi tersebut, perseroan akan mencapai target pertumbuhan pembiayaan pada tahun ini. Apalagi mulai paruh kedua tahun ini, Bank BTN sudah bisa menggunakan dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Skema FLPP pada tahun ini dipandang akan menguntungkan posisi Bank BTN. Pasalnya, pada skema baru tersebut, sebanyak 75 persen dananya berasal dari pemerintah, sedangkan 25 persen bersumber dari PT Sarana Multigriya Finansial (SMF). Dengan penambahan fasilitas tersebut, BTN bisa menggunakan dua sumber pembiayaan yakni Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan FLPP.

 

Untuk memperkokoh sumber pembiayaan, tutur Maryono, Bank BTN juga terus berinovasi mengembangkan produk-produk low-cost fund.

 

Sementara hingga Mei 2018, BTN telah menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) senilai Rp 187,61 triliun naik 17,15 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp 160,14 triliun pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan simpanan masyarakat di Bank BTN tersebut juga terpantau masih berada di atas rata-rata posisi kenaikan DPK di industri perbankan nasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pertumbuhan DPK secara industri hanya naik di level 8 persen yoy pada April 2018. Dari sisi penyaluran kredit dan pembiayaan BTN mencatatkan laju kenaikan di atas rata-rata industri perbankan di Tanah Air. Per Mei 2018, BTN telah menyalurkan fungsi intermediasi senilai Rp 209,23 triliun atau tumbuh 20,58 persen yoy dari Rp 173,52 triliun. Sebaliknya, data OJK menyebutkan kredit perbankan secara nasional hanya tumbuh sebesar 9 persen yoy per April 2018.

 

Sumber: BeritaSatu.com