Meski rupiah menguat, Sri Rejeki Isman (SRIL) tetap genjot ekspor tahun ini


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah di awal tahun ini menguat. Kemarin, merujuk data kurs tengah Bank Indonesia (BI) menguat 0,7% ke level Rp 14.105 per dollar AS. Sejak akhir tahun lalu, kurs rupiah sudah menguat 2,59%. Kendati rupiah menguat, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) tetap menggenjot penjualan ekspor. Corporate Communication SRIl, Joy CitraDewi mengatakan, tahun ini pihaknya tetap mempertahankan porsi penjualan eskpor sebesar 58% - 60%. Bahkan, porsi penjualan ekspor tersebut lebih besar dari tahun lalu yang sekitar 56% – 58%.

 

Menurut Joy, hubungan dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) yang memburuk membuat SRIL masih berpotensi meraup pangsa pasar yang cukup besar dari AS. “Perang dagang antara AS dan China masih akan berdampak positif terhadap industri tekstil dalam negeri. Pangsa pasar Tiongkok cukup besar dan bisa digunakan sebagai kesempatan untuk penetrasi kepasar AS,” katanya kepada Kontan.co.id, Senin (1/7). Joy menyebutkan, menguatnya rupiah tidak selamanya berdampak negatif bagi SRIL. Dengan penguatan rupiah, SRIL berharap permintaan dari dalam negeri bisa meningkat. Apalagi, saat ini porsi permintaan domestik emiten sektor tekstil dan garmen ini cukup besar, yakni dikisaran 40%-42%. “Rate valas juga tidak bisa dilihat per hari, harus rata-rata over all dalam setahun. Kami juga melihat rupiah bisa bagus untuk permintaan dalam negeri,” katanya .

 

Untuk target kinerja tahun 2019, SRIL belum mau buka-bukaan. Tahun lalu, SRIL menargetkan pendapatan tahun mencapai US$ 1,045 miliar dengan target laba bersih US$ 84 juta. Head of Lots Services PT Lotus Andalan Sekuritas Krishna Setiawan mengatakan, penguatan rupiah tidak akan menekan bisnis SRIL. Meski rupiah menguat terhadap dollar AS, SRIL masih bisa mencetak laba.  “SRIL telah memiliki pelanggan tetap, hanya saja karena rupiah menguat mungkin tidak lagi mendapat keuntungan dari selisih kurs,” ujarnya.

 

Sumber: kontan.co.id